Alasan Banyuwangi Jadi Tuan Rumah Konferwil IPNU Jatim Ke XXII

Alasan Banyuwangi Jadi Tuan Rumah Konferwil IPNU Jatim Ke XXII

Banyuwangi, NU Online. Konferensi Wilayah Ke-XXII Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (Konferwil IPNU) Jawa Timur dihelat di Institut Agama Islam Ibrahimi Banyuwangi selama 3 hari, Jumat-Ahad (3-5/8). Dipilihnya Banyuwangi sebagai tuan rumah bukan dengan tanpa alasan. Banyuwangi dinilai bisa menjadi contoh yang baik sesuai tema yang diusung.

“Tema yang kita angkat pada konferwil kali ini adalah konsolidasi dan sinergi pelajar NU merespon revolusi industri 4.0. Tema ini sesuai dengan spirit yang sedang dikembangkan oleh Banyuwangi,” ungkap Ketua PW IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami pada pembukaan Konferwil tersebut, Jumat (3/8).

Pengembangan Pemerintah Daerah Banyuwangi yang mengadaptasi teknologi informasi, lanjut Haikal, adalah salah satu spirit dalam menuju Revolusi Industri 4.0.

“Jika di daerah lain menolak Go-Jek, justru di Banyuwangi diterima dan dimanfaatkan untuk membantu pelayanan publik. Ini adalah contoh bahwa Banyuwangi adalah daerah yang siap untuk menerima Revolusi Industri 4.0,” terang Haikal.

Hal tersebut, imbuh Haikal, tak terlepas dari kepemimpinan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang memiliki mentalitas kepemimpinan adaptif terhadap perkembangan zaman. “Kita ingin semua kader IPNU se-Jawa Timur bisa meneladani kepemimpin dari Pak Anas yang kebetulan adalah mantan Ketua Umum IPNU,” tegas Haikal.

Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas menegaskan pentingnya mempersiapkan diri terhadap Revolusi Industri 4.0. Revolusi yang ditandai dengan teknologi tingkat tinggi itu perlu disongsong dengan baik.

“Kemajuan teknologi tidak untuk dilawan ataupun dihindari. Tapi, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” papar Anas.

Hal tersebutlah yang menurutnya diterapkan di Banyuwangi. Pemda Banyuwangi memanfaatkan teknologi sendiri untuk mempercepat pembangunan dan pelayanan publik. Ia mencontohkannya dengan smart kampung. Sebuah upaya pemanfaatan teknologi informasi di tingkat desa.

“Kabupaten Banyuwangi ini sangat luas. Dari desa ke kota harus menempuh 3 jam perjalanan. Ini akan menyulitkan pelayanan. Maka, kita pangkas dengan IT. Staf desa tidak perlu lagi ke kecamatan, cukup melalui sistem online, sudah bisa di-approve (ketahui) oleh Camat,” paparnya.

Dengan Revolusi Industri 4.0 itu Anas berpesan, para pelajar di Jatim optimis menatap masa depan. Kesempatan antara desa dan kota saat ini sudah relatif sama. Kemajuan teknologi menjamin hal tersebut.

“Yang membedakannya, hanya siapa yang mau giat belajar dan inovatif. Jika tidak, maka akan tertinggal,” pungkasnya.

 

Agenda Konferwil sendiri merupakan forum permusyawaratan tertinggi IPNU Jawa Timur. Selain memilih ketua periode selanjutnya, Konferwil ini juga bertujuan untuk merumuskan program tiga tahun ke depan. Sebelumnya juga digelar acara lain mulai dari Apel Kebangsaan Pelajar Jatim, Annual Meeting pelajar penemu, dan IPNU Jatim Award. (Ayung/Muhammad Faizin)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •