Dalam rangka menjadikan Perguruan Tinggi Islam sebagai pusat pengembangan mahasiswa yang memiliki keunggulan akademik dan moral, perlu reformulasi ilmu pengetahuan integratif. Mewujudkan ini, Perguruan Tinggi Islam telah memiliki riwayat berbeda dari perguruan tinggi umum, didirikan untuk memenuhi kebutuhan akademik dan agama, ideologi dan politik. Oleh karena itu, untuk lebih mengartikulasikan perannya, PTAI berusaha mengembangkan konsep keilmuan dan moralitas.
Pengembangan ini menjadi tidak berarti banyak jika tidak diimbangi dengan pengembangan hubungan organik antara ilmu, iman dan amal shaleh. Mengingat etos keilmuan tidak dapat dibangun hanya melalui pembelajaran secara formal di dalam kelas, maka meniscayakan adanya wadah akademik (academic sphere) yang memberikan ruang gerak bagi perkembangan akal dan moral, sehingga mendukung perkembangan intelektual (kognisi) dan keberagamaan (afeksi).
Untuk keperluan itu, integrasi model pendidikan perguruan tinggi dengan pendidikan Islam tradisional (pesantren) merupakan pilihan yang memadai. Pengintegrasian sistem pendidikan pesantren, yang mampu menanamkan nilai-nilai keagamaan dan budi pekerti dengan baik, dapat membantu Perguruan Tinggi Islam mencapai etos keilmuan yang mampu melihat hubungan organik tersebut. Untuk mencapai hal tersebut maka diperlukan strategi pengembangan kelembagaan di bawah Diktis yang mampu mewadahi sistem pendidikan tinggi dan pesantren.
Berdasarkan filosofi ini, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam memandang bahwa pendirian Ma’had al-Jami’ah dirasa urgen bagi upaya merealisasikan program integral yang sistematis, sejalan dengan Sistem Pendidikan Nasional dan visi-misi Departemen Agama Republik Indonesia.

Filosofi Ma’had al-Jami’ah 

  1. Ma’had al-Jami’ah merupakan lembaga pendidikan Islam yang menitikberatkan pada pendalaman ilmu-ilmu agama (tafaqquh fiddin), mewarisi kontinuitas tradisi Islam yang telah dialirkan ulama dari masa ke masa.
  2. Secara historis, Ma’had al-Jami’ah merupakan kelanjutan lembaga tradisi pesantren yang memiliki sumber-sumber klasik. Dilihat dari hubungan historis ini, Ma’had al-Jami’ah merupakan mata rantai pendidikan Islam universal yang identik dengan model pendidikan Islam khas Indonesia, muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat lingkungannya (indigenous).
  3. Sebagai lembaga yang identik dengan model pendidikan Islam khas Indonesia, Ma’had al-Jami’ah merupakan lembaga yang mentransformasian keilmuan dan pengamalan ilmu dan tradisi keislaman, mencakup akidah, syari’ah, dan akhlak.
  4. Ilmu-ilmu keislaman yang diajarkan Ma’had al-Jami’ah bermuara dari madzhab ahlu sunnah wa al-jama’ah, dalam pengertian yang luas, mengandung sikap intelektual yang berpegang teguh kepada tradisi-tradisi Islam yang kaya.
  5. Ma’had al-Jami’ah juga merupakan lembaga pendidikan integrasi tradisi lokal dengan konsep-konsep epistemologis keislaman, selanjutnya membentuk sub-kultur “sarjana-santri atau santri-sarjana” dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Bentuk Kegiatan Ma’hadiyah 

  1. Kegiatan Ketakmiran : meliputi mengefektifkan kegiatn sholat fardlu Ashar berjamaah di kampus IAIIBRAHIMY  meliputi  Adzha, puji pujian, iqomat serta kultum  sasaran dosen dan Mahasiswa, meliputi penjadwalan Adzan, Pujia pujian dan Iqomat kultum mahasiswa,
  2. Kiswah (Kajian Islam dan Sosial Ahlus Sunnah wal Jamaah)
  3. Kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) seperti Tahun baru Hirjiriyah Muharrom, Maulid Nabi, Isro’ Mijrod Nabi, Nuzulul Qur’an dan Miladiyah Ma’hadiyah